Media Rusia Sorot Dugaan Lab Biologi AS di Indonesia

Jakarta (mediamelayu) – Media pemerintah Rusia, Sputnik, baru-baru ini ikut menyoroti dugaan adanya laboratorium biologi AS yang ditempatkan di banyak negara, salah satunya diyakini berada di Indonesia.

Lab biologis AS disebut berada di sebuah rumah dengan cahaya redup bertempat di Jalan Percetakan Negara 29, yakni kompleks lembaga pemerintah Indonesia. Diklaim menjadi rumah Unit Penelitian Medis Angkatan Laut AS (NAMRU-2).

Media Rusia meyakini tempat tersebut merupakan fasilitas bioresearch, saat patogen dan virus berbahaya disimpan serta digunakan.

Sorotan media Rusia juga diawali dari keterangan Siti Fadilah Supari yang menyebut adanya perjanjian antara Indonesia dan AS terkait pendirian laboratorium dengan kinerja yang patut dipertanyakan.

“Saya hanya tahu lab mereka sangat tertutup. Dan para penelitinya adalah Marinir Amerika, yang semuanya memiliki kekebalan diplomatik,” kata Supari pada media Rusia.

“Kami tidak pernah tahu apa yang mereka bawa dalam tas diplomatik mereka. Ada juga beberapa peneliti dari Indonesia yang membantu mereka,” sambung dia.

Mantan Kepala Kerja sama Teknik dan Perjanjian Internasional Kementerian Kesehatan Dicky Budiman merespons dugaan tersebut. Menurutnya, praduga semacam itu sama sekali tidak berdasar.

Dicky yang juga berperan dalam proses kasus NAMRU 2008-2010 memastikan bentuk kerjasama AS dengan Indonesia tidak terkait bahaya patogen yang sengaja menimbulkan wabah. Namun, ada banyak keuntungan yang didapat yakni pengalihan aset NAMRU sehingga Indonesia memiliki teknologi lebih maju.

“Bukan berkaitan bahaya lab biologis, tapi ini dalam rangka menata pengetahuan dua negara ini seimbang dan saling menguntungkan dan tentu harapannya kalau saya di saat itu adalah tentu utamanya (keuntungannya) lebih besar di kita,” beber Dicky seperti dilansir mediamelayu.com dari detikcom, Senin (30/5/2022).

“Oleh karena itulah yang diuntungkan adalah kita mendapat pengalihan aset NAMRU, jadi itu sudah bukan punya AS lagi sejak 2009,” sambung dia.

Hubungan Indonesia dengan banyak negara dalam kesehatan selalu mengupayakan aspek kesehatan nasional. Kerja sama tersebut juga meneliti penyakit infeksi yang ada di Indonesia seperti malaria dan bermanfaat bagi SDM di Tanah Air.

“Ini tentu juga bermanfaat karena beberapa menghasilkan doktor-dokter di Indonesia. Artinya orang Indonesia yang bisa melakukan riset,” katanya.

“Ini tentu menguntungkan kita, karena kita akhirnya memiliki SDM dan sekali lagi ketika setelah penyerahan itu menjadi kewenangan Indonesia. Bahwa sekarang ada itu (lab biologis AS) ya nggak,” tandasnya.

Dicky sekali lagi menekankan tudingan media Rusia tidak bisa dibuktikan secara faktual.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.