Lebih dari Sekadar Estetika, Inilah Makna Mendalam di Balik Warna Kuning, Hijau, dan Merah dalam Budaya Melayu

Lebih dari Sekadar Estetika, Inilah Makna Mendalam di Balik Warna Kuning, Hijau, dan Merah dalam Budaya Melayu

MEDIAMELAYU.COM- Kebudayaan Melayu secara turun-temurun dikenal kaya akan simbolisme, di mana setiap unsur estetikanya selalu berpijak pada nilai-nilai filosofis yang mendalam. Salah satu representasi yang paling menonjol adalah penggunaan tiga warna khas kuning, hijau, dan merah yang menjadi identitas visual masyarakat Melayu. Sekretaris Prodi Sastra Melayu Universitas Sumatera Utara (USU), Arie Azhari Nasution, S.S., M.A., menegaskan bahwa warna-warna ini bukanlah sekadar pilihan dekoratif, melainkan melambangkan pandangan hidup dan tatanan sosial yang diwariskan oleh para leluhur.

Warna kuning menempati strata tertinggi dalam kebudayaan Melayu sebagai simbol kedaulatan, kebesaran, dan kemuliaan. Secara historis, penggunaan warna kuning merupakan hak istimewa para Raja dan Sultan, yang mencerminkan otoritas kepemimpinan yang berwibawa. Di dalam lingkungan istana, warna ini mendominasi berbagai instrumen penting, mulai dari singgasana, jubah kebesaran, hingga payung kerajaan, yang semuanya bertujuan untuk menegaskan marwah dan kemuliaan institusi adat di mata rakyatnya.

Selanjutnya, warna hijau membawa pesan spiritual yang mendalam, melambangkan ketaatan beragama sekaligus kesuburan serta kemakmuran. Dalam konteks Melayu Riau dan Sumatera, hijau identik dengan peran pemuka agama dan menjadi penanda kuat identitas masyarakat Melayu sebagai pemeluk agama Islam yang taat. Penggunaan warna ini mengajarkan bahwa kemakmuran suatu bangsa hanya dapat dicapai apabila dibarengi dengan kepatuhan terhadap nilai-nilai ketuhanan dan pelestarian alam yang subur.

Sementara itu, warna merah melambangkan semangat keberanian, ketangguhan, dan sikap pantang menyerah yang harus dimiliki oleh setiap insan Melayu. Warna ini secara tradisional kerap digunakan oleh para panglima perang maupun rakyat jelata sebagai representasi dari jiwa ksatria dalam membela kebenaran. Merah memberikan keseimbangan emosional bahwa dalam mencapai kemuliaan, diperlukan keberanian fisik dan mental untuk menghadapi berbagai tantangan zaman tanpa kehilangan arah.

Dalam praktik keseharian, perpaduan ketiga warna ini sering terlihat pada momen-momen krusial, seperti prosesi pernikahan, penabalan pemangku adat, hingga penyambutan tamu kehormatan melalui tari persembahan. Integrasi warna kuning, hijau, dan merah pada busana dan dekorasi adat bukan sekadar perpaduan artistik, melainkan sebuah pesan simbolik mengenai keramahtamahan dan keterbukaan masyarakat Melayu terhadap tamu, namun tetap teguh memegang prinsip-prinsip adat yang berlaku.

Secara komprehensif, filosofi tiga warna ini menuntut masyarakat Melayu untuk memiliki keseimbangan hidup yang utuh. Sebagaimana yang dijelaskan oleh para pakar sastra Melayu, manusia Melayu yang ideal adalah mereka yang memiliki keberanian (merah), namun tetap tunduk dan taat pada koridor agama (hijau), sehingga pada akhirnya mampu meraih kemuliaan hidup (kuning). Nilai keseimbangan inilah yang menjadi fondasi bagi masyarakat Melayu untuk tetap bertahan sebagai bangsa yang beradab dan bermartabat di tengah arus globalisasi.

Sumber : detik.com

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *