Mozaik Budaya Siak, Ribuan Diaspora Pulang Kampung Meriahkan Puncak Perayaan Cap Go Meh 2577

Mozaik Budaya Siak, Ribuan Diaspora Pulang Kampung Meriahkan Puncak Perayaan Cap Go Meh 2577

MEDIAMELAYU.COM- Sebanyak 1.500 lampion merah menyala menghiasi langit Kota Siak Sri Indrapura, menandai puncak perayaan Cap Go Meh yang berlangsung meriah di halaman Kelenteng Hock Siu Kiong. Ribuan masyarakat dari berbagai latar belakang suku dan agama berkumpul memadati kawasan Kelurahan Kampung Dalam untuk menyaksikan penutupan rangkaian Tahun Baru Imlek 2026. Aroma dupa dan alunan musik khas Tionghoa berpadu dengan suasana malam yang sejuk, menciptakan atmosfer budaya yang kental di kota peninggalan Sultan Syarif Kasim II ini, sekaligus menegaskan posisi Siak sebagai pusat mozaik kebudayaan yang inklusif di Riau.

Perayaan tahun ini menjadi momentum berharga bagi diaspora Tionghoa asal Siak yang pulang kampung dari berbagai penjuru dunia, mulai dari Jakarta, Medan, hingga mancanegara seperti Malaysia, Singapura, dan Taiwan. Kehadiran mereka tidak hanya untuk menjalankan ritual adat, tetapi juga untuk merajut kembali silaturahmi di tanah kelahiran. Di bawah pendaran ribuan lampion, warga Tionghoa tampak membaur akrab dengan warga Melayu, Jawa, Batak, Minang, hingga Nias, mencerminkan potret toleransi yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat Kabupaten Siak sejak berabad-abad silam.

Ketua PSMTI Kabupaten Siak, Joni Chang, dalam sambutannya menekankan bahwa Cap Go Meh di Siak bukan lagi sekadar ritual keagamaan satu etnis, melainkan telah bertransformasi menjadi tradisi kolektif milik seluruh masyarakat. Kesadaran akan kebersamaan ini menjadi fondasi bagi kemakmuran dan kedamaian kota. Persiapan matang yang dilakukan panitia, termasuk pemasangan ribuan lampion di seluruh area kelenteng, bertujuan untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung agar dapat menikmati estetika perayaan budaya ini sebagai bagian dari identitas daerah.

Secara historis, Kelenteng Hock Siu Kiong yang dibangun pada tahun 1871 merupakan simbol keberadaan warga Tionghoa yang telah bermukim lama di tepian Sungai Siak, berdekatan dengan Istana Siak dan Masjid Syahabuddin. Kedekatan geografis antara rumah ibadah dan pusat kesultanan ini memiliki makna filosofis yang mendalam tentang hubungan harmonis yang tak terpisahkan antara etnis Tionghoa dengan sejarah Kesultanan Siak. Kawasan pecinan dan kawasan kesultanan telah hidup berdampingan, membuktikan bahwa perbedaan keyakinan tidak pernah menjadi penghalang dalam membangun kehidupan sosial yang padu.

Kemeriahan malam puncak tersebut diisi dengan penampilan artis-artis berbakat dari berbagai kota, termasuk pertunjukan unik dari penyanyi berhijab yang fasih membawakan lagu-lagu berbahasa Mandarin. Keberagaman juga terlihat dalam acara undian berhadiah yang disambut antusias oleh seluruh penonton yang hadir. Puncak acara ditandai dengan pengumuman pemenang hadiah utama satu unit mobil, yang semakin menambah kemeriahan suasana di tengah kerumunan warga yang tetap tertib hingga menjelang tengah malam.

Satu hal yang paling mengesankan pada perayaan tahun ini adalah sinkronisasi waktu dengan bulan suci Ramadan. Panitia secara sadar mengatur jadwal seremonial agar dimulai setelah pelaksanaan salat Isya dan Tarawih selesai, guna menghormati umat Islam yang sedang menjalankan ibadah. Pola toleransi waktu ini disepakati bersama agar kegiatan budaya dan ibadah agama dapat berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu. Harmoni ini membuktikan bahwa di Siak, adat dan keberagaman adalah kekuatan utama yang menjaga marwah negeri.

Sumber : Tribun

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *