MEDIAMELAYU.COM- Kawasan bersejarah Rumah Singgah Tuan Kadi di tepian Sungai Siak menjadi pusat perhatian ribuan warga yang memadati Festival Kreatif Budaya Melayu. Perhelatan yang berlangsung semarak ini menampilkan aneka pertunjukan seni dan musik yang merepresentasikan kekayaan identitas lokal. Tak hanya sebagai ajang hiburan, festival ini menjadi ruang pertemuan bagi masyarakat untuk merayakan nilai-nilai tradisional dalam suasana yang modern namun tetap khidmat di bawah naungan langit Kota Pekanbaru.
Salah satu sorotan utama dalam festival kali ini adalah kompetisi berbalas pantun yang mengangkat tema krusial, yakni kelestarian alam serta pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Melalui bait-bait pantun yang sarat makna, para peserta berupaya mengedukasi audiens mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem Riau. Transformasi pantun dari sekadar tradisi lisan menjadi media kampanye lingkungan ini menunjukkan bahwa kearifan lokal Melayu tetap relevan dan efektif dalam merespons tantangan ekologi kontemporer.
Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, dalam sambutannya menegaskan bahwa festival ini merupakan pengejawantahan dari visi “Pekanbaru Berbudaya Maju dan Sejahtera”. Beliau berkomitmen untuk terus membenahi infrastruktur kota secara bertahap demi menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi seluruh warga. Penataan kawasan bersejarah seperti Rumah Singgah Tuan Kadi menjadi prioritas pemerintah daerah agar dapat menjadi magnet pariwisata yang mampu menggerakkan roda ekonomi kerakyatan melalui kehadiran UMKM setiap pekannya.
Festival yang meskipun dikemas secara sederhana namun memiliki kualitas berskala nasional ini diharapkan dapat menjadi agenda rutin yang konsisten. Wali Kota Agung Nugroho menekankan pentingnya keberlanjutan pagelaran budaya sebagai instrumen pelestarian nilai-nilai masyarakat Pekanbaru agar tidak tergerus zaman. Dengan integrasi antara seni budaya dan pemberdayaan ekonomi lokal, kawasan tepian Sungai Siak diproyeksikan berkembang menjadi ikon pusat kebudayaan yang dinamis dan kompetitif.
Inisiasi festival ini mendapat apresiasi tinggi, di mana gagasan tersebut lahir dari semangat Kapolda Riau untuk menyatukan pelestarian budaya dengan kesadaran lingkungan. Kapolresta Pekanbaru, Kombes Pol Jeki Rahmat Mustika, menjelaskan bahwa pendekatan budaya lisan Melayu digunakan sebagai strategi persuasif untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya Karhutla. Sosialisasi melalui jalur budaya dinilai lebih menyentuh aspek psikologis masyarakat dalam memahami risiko lingkungan yang ada di sekitar mereka.
Pesan utama yang ditekankan dalam festival ini adalah seruan bagi masyarakat untuk mulai mengambil langkah nyata dalam menjaga alam, seperti tidak membakar sampah sembarangan dan menghindari pembukaan lahan dengan cara dibakar. Sinergi antara jajaran kepolisian, pemerintah kota, dan tokoh kebudayaan dalam festival ini menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga marwah budaya Melayu sejalan dengan tanggung jawab menjaga kelestarian bumi Lancang Kuning dari ancaman bencana asap.
Sumber : Pekanbaru.go.id
