Gadis Asal Siak Terbaring Kritis di Kamboja, BP3MI Riau Intensifkan Koordinasi Perlindungan

Gadis Asal Siak Terbaring Kritis di Kamboja, BP3MI Riau Intensifkan Koordinasi Perlindungan

MEDIAMELAYU.COM- Kondisi kesehatan Susi Yanti Br Sinaga, seorang perempuan berusia 22 tahun asal Lubuk Dalam, Kabupaten Siak, dilaporkan terus memburuk saat menjalani perawatan intensif di ruang ICU RS Khmer Soviet Friendship, Phnom Penh, Kamboja. Susi diduga kuat menjadi korban sindikat penipuan kerja internasional yang beroperasi di wilayah Asia Tenggara. Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Riau, Fanny Wahyu Kurniawan, menegaskan bahwa pemerintah tengah melakukan koordinasi lintas negara guna memastikan penanganan medis dan perlindungan hak-hak korban tetap terjaga di tengah situasi kritis tersebut.

Upaya pendampingan secara langsung telah dilakukan oleh perwakilan KBRI di Phnom Penh dengan memonitor perkembangan kesehatan Susi di rumah sakit. Berdasarkan laporan terkini, pihak otoritas Indonesia di Kamboja terus menyarankan keluarga untuk memantau kondisi korban melalui pendamping yang berada di lokasi. Sementara itu, di tanah air, tim BP3MI Riau telah melakukan kunjungan resmi ke rumah keluarga korban di Kabupaten Siak untuk memberikan penjelasan mendalam mengenai langkah-langkah diplomatik dan perlindungan yang sedang ditempuh oleh pemerintah pusat melalui Kemenlu dan BP2MI.

Persoalan ini bermula ketika Susi berangkat ke luar negeri pada Desember lalu dengan janji pekerjaan di Malaysia, namun kenyataannya ia justru dibawa ke Kamboja untuk dipekerjakan di sektor industri daring yang diduga berkaitan dengan praktik penipuan online (scamming). Keberangkatan korban terkonfirmasi tidak melalui prosedur resmi penempatan pekerja migran dan hanya bermodalkan paspor tanpa dokumen pendukung yang sah. Kasus ini menjadi alarm keras mengenai ancaman tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang menyasar warga daerah dengan iming-iming gaji besar di luar negeri.

Selain kendala kesehatan yang memprihatinkan, beban finansial juga menjadi persoalan serius bagi pihak keluarga korban. Meskipun sebagian biaya perawatan medis telah diupayakan untuk dibayar, hingga saat ini masih terdapat sisa tagihan rumah sakit sekitar 1.000 dolar Amerika Serikat yang belum terlunasi. Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas di kampung halaman menambah kerumitan proses penanganan medis bagi Susi yang sebelumnya juga sempat menjalani perawatan di Vietnam sebelum akhirnya berpindah ke fasilitas kesehatan di Kamboja atas permintaan sendiri.

Menyikapi fenomena ini, BP3MI Riau kembali mengeluarkan imbauan tegas kepada masyarakat agar tidak mudah tergiur oleh tawaran pekerjaan di luar negeri yang menjanjikan kemudahan tanpa mekanisme resmi. Penggunaan jalur non-prosedural atau ilegal sangat berisiko tinggi karena menghilangkan jaminan pelindungan hukum dan keselamatan dari negara. Masyarakat diminta untuk selalu memverifikasi setiap tawaran kerja melalui Dinas Tenaga Kerja atau BP3MI guna menghindari skema penipuan yang dapat berujung pada ancaman nyawa dan eksploitasi di negeri orang.

Pemerintah Provinsi Riau bersama BP3MI memastikan bahwa komunikasi dengan perwakilan RI di Kamboja akan terus diperkuat untuk menentukan langkah mitigasi selanjutnya. Fokus utama saat ini adalah stabilisasi kondisi kesehatan korban agar nantinya memungkinkan untuk dilakukan proses repatriasi atau pemulangan ke Indonesia. Penanganan kasus ini diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi seluruh elemen masyarakat di Bumi Lancang Kuning tentang pentingnya kewaspadaan terhadap sindikat pekerja migran ilegal yang terus mengintai daerah-daerah di pelosok Riau.

Sumber : Tribun Pekanbaru

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *