Jaga Akar Budaya, DPRD Riau Dorong Pemprov Perkuat Literasi Arab Melayu bagi Generasi Muda

Jaga Akar Budaya, DPRD Riau Dorong Pemprov Perkuat Literasi Arab Melayu bagi Generasi Muda

MEDIAMELAYU.COM , PEKANBARU – Anggota DPRD Provinsi Riau, H. Ayat Cahyadi, S.Si, M.PWK, melayangkan seruan penting kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau untuk memberikan atensi khusus terhadap penguatan literasi tulisan Arab Melayu. Aspirasi ini disampaikan di tengah kekhawatiran akan lunturnya identitas lokal di era modernisasi, di mana kemampuan membaca dan menulis aksara Jawi dinilai mulai memudar di kalangan generasi penerus Bumi Lancang Kuning.

Dalam pertemuan strategis Komisi I DPRD Riau bersama Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau pada 31 Maret 2026, Ayat Cahyadi menekankan bahwa aksara Arab Melayu bukan sekadar alat komunikasi visual, melainkan simbol kedaulatan budaya Riau. “Literasi tulisan Arab Melayu harus menjadi perhatian serius Pemprov Riau. Anak-anak Riau harus mahir membaca dan menulis Arab Melayu sebagai bentuk penjagaan terhadap jati diri kita,” tegas mantan Wakil Walikota Pekanbaru tersebut.

Secara historis, aksara Arab Melayu atau Jawi merupakan pilar utama peradaban kerajaan-kerajaan besar di Riau, seperti Kesultanan Siak Sri Indrapura dan Kerajaan Riau-Lingga. Aksara ini digunakan secara luas dalam dokumen ketatanegaraan, hukum, hingga karya sastra monumental seperti gubahan Raja Ali Haji pada abad ke-19. Tanpa kemampuan literasi yang mumpuni, naskah-naskah kuno dan peninggalan sejarah yang tersimpan di museum-museum Riau terancam menjadi benda bisu bagi generasi mendatang.

Merespons tantangan tersebut, DPRD Riau berharap pemerintah daerah segera menghadirkan kebijakan konkret, baik melalui penguatan kurikulum muatan lokal di tingkat pendidikan dasar dan menengah, maupun melalui program-program kebudayaan yang inovatif. Penguasaan aksara ini dipandang krusial agar masyarakat Riau tidak kehilangan akses terhadap khazanah intelektual masa lalu yang mencakup sejarah, adat istiadat, dan nilai-nilai religius yang tertuang dalam manuskrip kuno.

Bahasa Melayu dengan aksara Jawi telah lama berfungsi sebagai lingua franca dan bahasa perdagangan utama di pesisir timur Sumatra. Oleh karena itu, pelestariannya dianggap sebagai langkah strategis dalam menjaga marwah Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara. “Kita ingin teknologi berkembang, namun akar budaya tetap menghujam kuat. Transformasi digital harusnya bisa menjadi sarana untuk mempermudah akses belajar Arab Melayu bagi milenial dan Gen Z,” tambah Ayat.

Melalui sinergi antara legislatif dan eksekutif, penguatan literasi Arab Melayu diharapkan dapat menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif terhadap nilai-nilai kearifan lokal. Dengan demikian, kekayaan sejarah yang ada di Pulau Penyengat, Lingga, hingga Siak tetap dapat dibaca, dipahami, dan diwariskan secara turun-temurun sebagai identitas kolektif masyarakat Riau yang religius dan berbudaya.

Sumber : Kabarlah

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *