MEDIAMELAYU.COM, PEKANBARU – Pelestarian budaya Melayu di Provinsi Riau kini menemukan napas baru melalui tangan dingin para generasi muda yang menekuni seni tenun dan tekat. Di sebuah rumah produksi bernama Candafa Tekat Tiga Dara yang berlokasi di wilayah Sukajadi, tradisi menenun manual terus dipertahankan sebagai penuntun cara hidup masyarakat sesuai ajaran budayawan Alm. Tenas Effendy. Meskipun proses pembuatan sehelai kain tenun sepanjang 2,5 meter membutuhkan waktu hingga dua minggu, para pengrajin muda di sana tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan ketelitian tinggi. Penggunaan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) menjadi kunci utama dalam menghasilkan karya yang memiliki nilai estetika tinggi dan eksklusif. Hal ini membuktikan bahwa di tengah gempuran produk fesyen massal buatan mesin, keaslian karya tangan tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.
Salah satu pengrajin muda yang konsisten menekuni bidang ini adalah Afifah Safni, seorang mahasiswi yang memilih mendalami tradisi menenun sejak lulus dari sekolah menengah kejuruan. Di tangan lincahnya, benang-benang ditenun menjadi kain khas Melayu yang kemudian diolah menjadi berbagai produk seperti tanjak, selendang, hingga pernak-pernik interior. Ketertarikannya pada dunia fesyen tradisional justru memberikan peluang ekonomi yang menjanjikan dengan omzet mencapai jutaan rupiah per bulannya. Baginya, menenun manual bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan sebuah cara untuk memastikan bahwa identitas budaya Riau tidak hilang ditelan zaman. “Memang kuncinya harus sabar. Karena menenun manual begini, prosesnya tidak cepat,” tutur Afifah saat menjelaskan rumitnya tahapan produksi yang ia jalani setiap hari.
Keunggulan tenun manual terletak pada motifnya yang bisa disesuaikan dengan keinginan konsumen serta kesan visual tiga dimensi yang tidak bisa ditiru oleh mesin tekstil industri. Karakteristik yang unik ini membuat produk tenun tradisional tetap dicari meskipun harganya dibanderol lebih mahal di pasaran. Afifah sendiri aktif memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan hasil rancangannya, sebuah langkah cerdas yang menggabungkan tradisi dengan strategi pemasaran digital masa kini. Ia berharap jejaknya dapat diikuti oleh lebih banyak anak muda di Riau agar industri kreatif berbasis budaya ini semakin berkembang pesat. “Kalau pakai mesin, satu motif diproduksi banyak. Jadi kesannya biasa saja. Berbeda dengan tenun manual yang motifnya bisa custom. Kesan tiga dimensinya pun dapat,” tambahnya dengan penuh rasa bangga.
Rumah produksi Candafa Tekat Tiga Dara memang memiliki visi besar untuk menjadikan generasi Z sebagai ujung tombak pelestarian budaya Melayu. Dari total sepuluh pengrajin yang aktif berproduksi, seluruhnya merupakan anak muda yang dibina untuk menjadi penerus estafet kekayaan tradisi tenun dan batik Riau. Selain sebagai tempat produksi, UMKM ini juga berperan sebagai pusat edukasi dengan menyelenggarakan berbagai workshop dan menjadi lokasi magang bagi siswa maupun mahasiswa dari berbagai universitas ternama. Dengan membuka diri bagi kaum muda yang ingin belajar, diharapkan kesadaran akan pentingnya menjaga warisan leluhur dapat tumbuh sejak dini. “Tujuannya ya supaya anak-anak muda ini yang meneruskan tradisi menenun dan membatik khas Melayu. Tradisi ini kami tanamkan ke mereka agar tidak hilang dimakan zaman,” ujar Pemilik Candafa Tekat Tiga Dara, Tengku Syarifah Nurila Zahara.
Eksistensi usaha mikro ini juga tidak lepas dari dukungan sektor perbankan, salah satunya melalui bantuan alat produksi dan pelatihan intensif yang diberikan oleh Bank BRI. Dukungan tersebut mencakup pemberian ATBM, pelatihan pengemasan produk, hingga akses pemasaran digital yang lebih luas melalui berbagai pameran tingkat provinsi. Melalui program pendampingan klaster UMKM, Tekat Tiga Dara kini semakin dikenal luas dan sering dilibatkan dalam berbagai agenda besar di tingkat kelurahan hingga provinsi. Komitmen untuk memberikan edukasi secara gratis bagi anak muda yang ingin belajar menjadi salah satu nilai tambah yang terus dipertahankan oleh pihak pengelola. “Jadi kebanggaan bagi kami dapat mengajar anak-anak muda,” tutur Nurila mengenai motivasinya tetap konsisten di jalur tenun manual meski persaingan pasar semakin ketat.
Sebagai penutup, Nurila menegaskan bahwa mempertahankan tradisi merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara bersama-sama oleh generasi muda Riau. Tanpa adanya regenerasi pengrajin, kekayaan budaya seperti tekat dan tenun dikhawatirkan hanya akan menjadi catatan sejarah di masa depan. Oleh karena itu, sinergi antara pelatihan keterampilan dan pemahaman nilai-nilai budaya menjadi sangat krusial untuk terus digalakkan. Dengan adanya wadah kreatif seperti ini, anak muda diharapkan tidak hanya mengenal identitas bangsanya, tetapi juga mampu menjadikannya sebagai sumber penghidupan yang membanggakan. “Jangan sampai anak muda kita tidak tahu dengan kekayaan budayanya,” tandas Nurila sebagai pengingat pentingnya menjaga napas tradisi di tanah Riau.
Sumber : Tribun Pekanbaru
