Bukan Cuma Orang Tua, Anak Muda Pekanbaru Ramai-Ramai Itikaf 24 Jam di Masjid Raya Senapelan

Bukan Cuma Orang Tua, Anak Muda Pekanbaru Ramai-Ramai Itikaf 24 Jam di Masjid Raya Senapelan

MEDIAMELAYU.COM, PEKANBARU — Memasuki penghujung Ramadan 1447 Hijriah, suasana religius di Masjid Raya Senapelan Pekanbaru semakin kental dengan kehadiran jemaah yang silih berganti melaksanakan ibadah itikaf. Masjid bersejarah peninggalan Sultan Siak ini menjadi magnet bagi umat Muslim yang ingin mengejar keberkahan malam Lailatul Qadar melalui zikir, tadarus Al-Qur’an, dan salat malam. Fenomena jemaah yang menetap selama 24 jam di masjid menjadi pemandangan lumrah, di mana pengelola masjid memberikan kebebasan penuh bagi siapa pun yang ingin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta di hari-hari terakhir bulan suci.

Ketua Pengurus Masjid Raya Senapelan, Juli Usman, mengungkapkan bahwa lonjakan jemaah tahun ini tidak hanya didominasi oleh warga lokal Pekanbaru, tetapi juga pendatang dari berbagai penjuru Riau hingga luar provinsi. Nama besar dan nilai historis masjid ini menarik minat warga dari Taluk Kuantan, Rengat, hingga Medan untuk merasakan atmosfer ibadah yang lebih sakral. Keberagaman asal daerah jemaah ini menciptakan semangat kebersamaan yang unik, di mana para musafir dan warga setempat membaur dalam satu tujuan spiritual yang sama di bawah naungan atap masjid tertua di Kota Bertuah.

Salah satu jemaah asal Rengat, Raja Oza, mengaku sengaja menempuh perjalanan ke Pekanbaru untuk melaksanakan itikaf selama beberapa hari menjelang Idulfitri. Dengan perlengkapan sederhana, ia memilih menetap di masjid demi merasakan kekhusyukan yang lebih mendalam dibandingkan beribadah di tempat lain. Meski mengakui bahwa berdiam diri di masjid selama 24 jam memerlukan fisik yang kuat, Oza merasa ada kepuasan batin yang luar biasa saat mampu menghabiskan waktu luangnya hanya untuk melafalkan ayat demi ayat suci Al-Qur’an di tengah keheningan malam.

Menariknya, tren itikaf di Masjid Raya Senapelan kini semakin digandrungi oleh generasi muda. Ryan Pramana, seorang pemuda asal Pekanbaru, menyebutkan bahwa rutinitas itikaf telah menjadi momentum “reset” diri untuk mengevaluasi perilaku dan meningkatkan kualitas iman. Kehadiran banyak teman sebaya di masjid memberikan motivasi tambahan bagi anak-anak muda lainnya untuk tidak ragu menghabiskan malam panjang dengan aktivitas positif. Baginya, ketenangan yang didapatkan di dalam masjid sulit ditemukan di tempat lain, terutama di tengah hiruk-pikuk persiapan lebaran yang biasanya sangat konsumtif.

Daya tarik historis masjid juga menjadi alasan utama bagi jemaah jauh seperti Abdur Rauf Khafi dari Medan. Berdasarkan rekomendasi kerabatnya, ia datang untuk membuktikan sendiri aura sakral masjid peninggalan Sultan Siak tersebut yang dipercaya memberikan kenyamanan ekstra dalam beribadah. Meskipun jauh dari keluarga di kampung halaman, Khafi merasa menemukan keluarga baru di antara sesama peserta itikaf. Solidaritas sosial yang terbangun secara spontan di antara jemaah membuat perjalanan spiritualnya terasa lebih ringan dan penuh makna.

Melalui kegiatan itikaf ini, Masjid Raya Senapelan membuktikan fungsinya bukan hanya sebagai tempat ibadah formal, tetapi juga sebagai pusat penguatan karakter dan ukhuwah islamiyah. Pengurus masjid berharap semangat ibadah yang tinggi ini dapat terus terjaga hingga malam takbiran berkumandang. Dengan semakin banyaknya jemaah yang fokus memperbaiki diri di penghujung Ramadan, diharapkan mereka dapat kembali ke fitrahnya dengan pribadi yang lebih baik dan siap menyongsong hari kemenangan dengan penuh rasa syukur.

Sumber : Media Center Riau

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *