MEDIAMELAYU.COM, DUMAI — Kota Dumai kini tengah menghadapi tantangan serius akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Tanjung Palas dan Mundam. Sedikitnya 120 hektare lahan dilaporkan telah hangus dilalap si jago merah, yang memicu munculnya kabut asap di sekitar kawasan terdampak. Kondisi ini dipicu oleh cuaca panas ekstrem yang melanda wilayah pesisir Riau, diperparah dengan tiupan angin kencang yang membuat api merambat sangat cepat di atas lahan gambut yang kering.
Dampak dari kebakaran ini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama terkait penurunan kualitas udara yang mulai mengkhawatirkan. Selain mengancam kesehatan pernapasan warga, kabut asap yang dihasilkan juga mulai menurunkan jarak pandang di jalan raya, sehingga membahayakan para pengendara yang melintas. Situasi ini menuntut kewaspadaan tinggi bagi seluruh penduduk Dumai, mengingat karakter lahan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan tanah membuat proses pemadaman menjadi lebih kompleks.
Wakil Wali Kota Dumai, Sugiyarto, menyatakan bahwa tim gabungan saat ini masih terus berjibaku di lapangan untuk mengendalikan situasi dan meminimalisir perluasan area yang terbakar. Namun, upaya pemadaman menghadapi kendala teknis yang cukup berat, di mana petugas di lapangan mulai kesulitan menemukan sumber air yang memadai di sekitar lokasi kebakaran. Suhu udara yang sangat tinggi juga menjadi tantangan fisik tersendiri bagi para petugas yang berupaya memutus jalur penjalaran api di tengah hutan dan semak belukar.
Operasi penanganan karhutla ini melibatkan sinergi lintas instansi yang solid, mulai dari BPBD Kota Dumai, TNI, Polri, hingga Manggala Agni. Tak hanya aparat negara, elemen masyarakat yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Api (MPA) serta warga setempat juga turun langsung membantu proses pemadaman secara manual. Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat lokalisir titik api agar tidak merembet ke kawasan pemukiman penduduk yang berada tidak jauh dari lokasi kebakaran lahan tersebut.
Pemerintah Kota Dumai melalui Wakil Wali Kota mengimbau dengan sangat agar masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kabut asap masih menyelimuti wilayah tersebut. Penggunaan masker medis saat beraktivitas di luar rumah sangat disarankan guna menghindari gangguan pernapasan akut atau ISPA. Selain itu, warga juga diingatkan untuk tidak melakukan aktivitas pembersihan lahan dengan cara membakar, karena sekecil apa pun percikan api dalam kondisi cuaca seperti sekarang dapat memicu bencana yang lebih besar.
Hingga saat ini, status karhutla di Dumai masih dalam penanganan intensif dan belum sepenuhnya dapat dikendalikan oleh tim satgas. Pemantauan melalui titik panas (hotspot) terus dilakukan secara berkala untuk memetakan arah pergerakan api. Pemerintah daerah berkomitmen untuk mengerahkan segala sumber daya yang ada guna memastikan kabut asap tidak semakin pekat, sekaligus menjaga agar aktivitas ekonomi dan mobilitas warga di Kota Dumai tetap dapat berjalan meski di tengah kondisi darurat lingkungan.
Sumber : kabar melayu
