Ancaman Ketirisan Bahasa, Balai Bahasa Riau Gencarkan Revitalisasi Melayu di Pelalawan

Ancaman Ketirisan Bahasa, Balai Bahasa Riau Gencarkan Revitalisasi Melayu di Pelalawan

MEDIAMELAYU.COM, PELALAWAN – Ancaman hilangnya bahasa daerah di tengah masyarakat kini semakin nyata akibat perubahan gaya hidup dan perkembangan teknologi yang begitu pesat. Penggunaan bahasa ibu dalam kehidupan sehari-hari dilaporkan terus berkurang, yang secara perlahan mengakibatkan hilangnya berbagai kosakata tradisional yang dahulu akrab digunakan. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan hilangnya identitas budaya lokal jika tidak segera dilakukan langkah penyelamatan yang konkret dan berkelanjutan. Balai Bahasa Riau (BBR) menilai bahwa perubahan alat-alat kehidupan modern secara tidak langsung telah menggeser istilah-istilah lama yang kaya akan nilai sejarah dan filosofi. Oleh karena itu, kesadaran kolektif untuk melestarikan bahasa daerah harus terus dipupuk di semua lapisan masyarakat, mulai dari lingkungan keluarga hingga instansi pemerintahan.

Pergeseran penggunaan teknologi rumah tangga tradisional ke alat modern menjadi salah satu contoh nyata bagaimana puluhan kosakata bisa hilang begitu saja dari ingatan masyarakat. Banyak istilah lama yang berkaitan dengan proses menanak nasi, peralatan dapur, hingga bahan masakan tradisional yang kini tidak lagi dikenal oleh generasi muda. Hilangnya kata-kata ini merupakan fenomena yang disebut sebagai ketirisan bahasa, di mana sebuah bahasa kehilangan kekayaan diksinya karena fungsinya digantikan oleh sistem yang lebih praktis. Hal ini menjadi tanggung jawab moral bagi setiap penutur asli untuk tetap menghidupkan istilah-istilah tersebut dalam komunikasi sehari-hari agar tidak punah tertelan zaman. “Kehilangan kosa kata ini terjadi karena perubahan cara hidup. Dulu proses memasak memiliki banyak istilah, sekarang banyak yang tidak lagi digunakan. Inilah yang disebut ketirisan bahasa dan menjadi tanggung jawab kita bersama,” ujar Kepala Balai Bahasa Riau, Dr. Umi Kulsum, M.Hum.

Untuk mengantisipasi kepunahan tersebut, program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) terus dijalankan sebagai agenda strategis nasional yang melibatkan berbagai elemen pendidikan. Program ini bertujuan memastikan bahwa bahasa Melayu tetap menjadi bahasa yang hidup, fungsional, dan membanggakan bagi generasi penerus di Provinsi Riau. Rangkaian kegiatan yang disusun mencakup bimbingan teknis bagi para pendidik, proses pengimbasan ilmu di sekolah-sekolah, hingga pelaksanaan festival kebudayaan yang kompetitif. Melalui pendekatan yang sistematis, diharapkan bahasa daerah tidak hanya menjadi objek studi sejarah, tetapi tetap eksis sebagai media komunikasi yang relevan dengan perkembangan zaman. “Tahun ini merupakan tahun ketiga pelaksanaan RBD di Riau. Rangkaian kegiatannya meliputi bimbingan teknis, pengimbasan di sekolah, hingga Festival Tunas Bahasa Ibu di tingkat kabupaten dan provinsi,” jelas Umi Kulsum.

Kegiatan bimbingan teknis yang dilaksanakan di Kabupaten Pelalawan ini melibatkan puluhan peserta yang terdiri dari kepala sekolah serta guru Budaya Melayu Riau (BMR). Para tenaga pendidik ini dipersiapkan untuk menjadi penggerak utama dalam mengimplementasikan penggunaan bahasa Melayu di lingkungan sekolah masing-masing secara aktif. Dengan keterlibatan langsung dari pihak sekolah, diharapkan para siswa dapat kembali mencintai dan menggunakan bahasa ibu mereka tanpa rasa canggung atau malu. Dukungan dari pemerintah daerah setempat juga mengalir kuat, mengingat pelestarian bahasa adalah bagian tak terpisahkan dari pelestarian marwah kebudayaan daerah. “Peserta diharapkan dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik dan nantinya mengimbaskan ilmu yang didapat kepada siswa di sekolah. Dengan begitu, bahasa Melayu bisa semakin dikenal dan menumbuhkan rasa bangga sebagai bahasa ibu,” ungkap Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Kemasyarakatan Pelalawan, dr. Endid Romo Pratinyo.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta dibekali dengan berbagai materi kreatif yang mencakup beragam bentuk penggunaan bahasa Melayu Riau dalam seni dan sastra. Materi yang diajarkan meliputi teknik berpidato, mendongeng, penulisan puisi, cerpen, hingga komedi tunggal dan tembang tradisi yang semuanya menggunakan dialek lokal. Selain itu, aspek penulisan aksara Arab Melayu juga menjadi perhatian penting guna menjaga literasi klasik tetap lestari di kalangan akademisi dan siswa. Selain bimbingan teknis, Balai Bahasa Riau juga menyerahkan buku bacaan anak dwibahasa dalam bahasa Indonesia dan bahasa Melayu Riau dialek Pelalawan kepada sejumlah penulis lokal. Buku-buku ini diharapkan dapat menjadi sarana literasi yang efektif bagi anak-anak untuk mempelajari bahasa daerah mereka sejak usia dini dengan cara yang menyenangkan.

Revitalisasi bahasa ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai program formal pemerintah, tetapi dapat menjelma menjadi gerakan sosial yang masif di tengah masyarakat Riau. Kehadiran berbagai pejabat daerah dari berbagai sektor dalam kegiatan ini menunjukkan adanya sinergi yang kuat untuk menjaga kekayaan intelektual daerah tersebut. Dengan kolaborasi yang baik antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat, bahasa Melayu Riau diyakini akan tetap kokoh berdiri meski di tengah gempuran budaya global. Pelestarian bahasa adalah investasi jangka panjang untuk menjaga jati diri bangsa agar tetap memiliki karakter yang khas di mata dunia. Semangat untuk menjaga bahasa ibu ini merupakan bentuk penghormatan tertinggi terhadap warisan leluhur yang harus terus diwariskan kepada anak cucu di masa yang akan datang.

Sumber : Tribun Pekanbaru

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *