MEDIAMELAYU.COM, PEKANBARU – Gelaran Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat berakhir dengan polemik panjang yang menjadi sorotan tajam netizen di media sosial. Kejadian yang bermula dari protes peserta terkait ketidakkonsistenan penilaian dewan juri ini berujung pada penonaktifan seluruh perangkat lomba, termasuk juri dan pembawa acara (MC). Pembawa acara Shindy Lutfiana, yang sempat menuai kritik keras lantaran pernyataannya yang dinilai meremehkan keberatan peserta, akhirnya muncul ke publik untuk menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Insiden ini memicu evaluasi besar-besaran dari Sekretariat Jenderal MPR RI terhadap mekanisme verifikasi jawaban dan tata kelola teknis perlombaan guna menjaga marwah kompetisi di masa mendatang.
Keriuhan ini dipicu oleh sebuah video viral yang memperlihatkan ketidakpuasan tim SMAN 1 Pontianak terhadap keputusan juri. Peserta merasa telah memberikan jawaban yang sama persis dengan tim lawan, namun justru dinyatakan salah dan mendapatkan pengurangan poin. Ketegangan semakin meningkat ketika pembawa acara melontarkan kalimat yang dianggap tidak netral dan memihak keputusan juri tanpa mempertimbangkan argumen peserta. Melalui akun media sosial pribadinya, Shindy mengakui bahwa pilihan katanya saat itu tidak patut disampaikan dalam kapasitasnya sebagai pemandu acara profesional. “Dengan segala kerendahan hati, saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas semua ucapan saya, terutama yaitu: ‘mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja’ yang seharusnya tidak patut saya sampaikan dalam kapasitas saya sebagai MC pada kegiatan tersebut,” tulis Shindy Lutfiana dalam unggahannya.
Di sisi lain, publik juga menyoroti sikap dua juri, Dyastasita Widya Budi dan Indri Wahyuni, yang bersikeras dengan penilaian mereka meski mendapatkan protes keras. Juri menilai terdapat perbedaan substansi pada penyebutan peran DPD dalam jawaban peserta, serta menyinggung masalah artikulasi yang dianggap tidak jelas saat menjawab. Namun, argumentasi tersebut justru dinilai publik sebagai bentuk ketidaktelitian juri dalam mendengarkan jawaban peserta secara objektif. Hingga saat ini, pihak juri yang terlibat belum memberikan klarifikasi langsung kepada publik, sementara netizen terus mendesak adanya transparansi dan pengecekan ulang terhadap tayangan asli perlombaan tersebut.
Merespons tekanan publik yang semakin masif, MPR RI mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan sementara dewan juri dan MC yang bertugas dalam kegiatan tersebut. Langkah ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab organisasi terhadap kualitas pelaksanaan sosialisasi Empat Pilar yang seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan kejujuran. Panitia pelaksana memastikan bahwa akan ada perbaikan menyeluruh pada sistem verifikasi jawaban agar kejadian serupa, di mana peserta merasa dirugikan oleh keputusan sepihak, tidak terulang kembali di tingkat nasional maupun daerah lainnya. “Terkait ramainya pemberitaan di media sosial tentang LCC Empat Pilar 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat, mengenai penilaian jawaban peserta pada salah satu sesi lomba, panitia pelaksana dari Sekretariat Jenderal MPR RI telah menonaktifkan Dewan Juri dan MC pada kegiatan LCC ini,” bunyi pernyataan resmi dari pihak MPR RI.
Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh penyelenggara perlombaan akademik di Indonesia mengenai pentingnya sistem rekaman dan verifikasi jawaban yang transparan. Profesionalisme juri dan netralitas pembawa acara merupakan kunci utama dalam menjaga sportivitas antarpeserta didik. Meskipun tim dari SMAN 1 Sambas telah dinyatakan sebagai juara dan berhak mewakili provinsi, bayang-bayang polemik ini diharapkan dapat segera tuntas melalui evaluasi yang jujur dari pihak penyelenggara. Kejadian ini mengingatkan semua pihak bahwa di era digital, setiap tindakan dan ucapan dalam ruang publik akan selalu mendapatkan pengawasan langsung dari masyarakat luas.
Sumber: Tribunpekanbaru
